Jakarta, Gardu.id – Bank Jakarta menggandeng jaringan ritel Indogrosir memulai aktivasi layanan Toko Mandiri Indogrosir (TMI) Difabel. Langkah konkrit sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui model usaha ritel inklusif itu ditandai dengan peresmian gerai TMI Difabel di Jl. Mandor Hasan, Bambu Apus, Jakarta Timur.
“Ini akan menjadi simbol kemandirian dan wadah pemberdayaan bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna grahita. Mereka kini terbuka mulai belajar mengelola usaha ritel modern,” kata Direktur Bisnis & Syariah Bank Jakarta Dipo Nugroho dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (1/10/25).
Proses aktivasi Gerai TMI Difabel tersebut dilakukan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan dihadiri Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan Septo Soepriyatno, dan Wakil Wali Kota Jakarta Timur Kusmanto.
Dipo Nugroho menyatakan, Gerai TMI Difabel merupakan komitmen perusahaannya dalam pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) inklusif. “Dukungan kami terhadap mereka adalah bagian dari strategi keberlanjutan Bank Jakarta dalam meluaskan akses layanan keuangan, sekaligus membangun ekosistem UMKM yang berkeadilan.”
TMI Difabel merupakan program pendampingan Indogrosir kepada calon wirausaha dalam bentuk toko atau warung modern. Dalam implementasinya, Indogrosir bersinergi dengan Bank Jakarta yang fokus mendukung calon wirausaha.
“Skemanya, Indogrosir sebagai penyedia model usaha ritel, komunitas difabel sebagai pengelola usaha, dan Bank Jakarta sebagai penyedia solusi layanan keuangan,” jelas Dipo.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, dibalik inisiatif pembuatan TMI Difabel, ada sosok inspiratif yakni seorang pegawai negeri sipil di Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bernama Sukarmi yang lebih dari 25 tahun menetap dan aktif berinteraksi dengan masyarakat sekitar lingkungan Bambu Apus.
Sosok Sukarmi, menurut Arie, yang menghadirkan TMI Difabel sebagai ruang usaha sekaligus sarana pembelajaran, agar penyandang disabilitas. Para tuna grahita tidak hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi juga mampu mengelola usaha, berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.





