Jakarta, Gardu.id – Aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia akhir Agustus lalu, salah satunya dipicu oleh jurang antara si kaya dan si miskin yang kian melebar. Ketimpangan ekonomi yang semakin terasa saat dibandingkan dengan tunjangan abdi negara itu kemudian menyulut amarah sejumlah pihak.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Gini Ratio yang menjadi indikator ketimpangan pendapatan, mengalami kenaikan dari 0,379 pada Maret 2024 menjadi 0,381 pada September 2024. Ini menunjukkan distribusi pendapatan di Indonesia semakin tak merata.
“Di balik ini semua, rasanya mengapa masyarakat kita sangat impulsif terhadap apa yang sudah terjadi kan karena soal kesenjangan ekonomi.” kata ekonom senior Tauhid Ahmad.
Salah satu indikator yang menunjukkan jurang antara si kaya dan si miskin semakin melebar adalah data tabungan atau simpanan yang dicatat oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS mencatat pertumbuhan tabungan masyarakat atau individu yang kurang dari Rp 100 juta mengalami perlambatan. Sementara masyarakat yang memiliki tabungan di atas Rp 5 miliar justru cenderung mengalami laju peningkatan signifikan.
“Simpanan di bawah Rp 100 juta makin turun, tapi di atas Rp 5 miliar makin tinggi. Ini yang dilihat, apakah ada upaya jangka pendek atau tidak mengurangi hal tersebut.” jelas Tauhid.
Data LPS menunjukkan, pertumbuhan tabungan masyarakat yang kurang dari Rp100 juta dari Juli 2016 hingga Juli 2019 tercatat sebesar 26,3%. Pertumbuhan ini mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan kondisi Juli 2021 hingga Juli 2024 yang hanya bertambah 11,9%.
Pertumbuhan tabungan masyarakat dengan saldo Rp100 juta hingga Rp200 juta juga melambat. Pada periode Juli 2016-Juli 2019 tercatat tumbuh 29,4%. Sementara Juli 2021 hingga Juli 2024 hanya tumbuh 13,3%.
Sementara masyarakat yang memiliki tabungan di atas Rp5 miliar, pada periode 2016-2019, pertumbuhan tabungannya naik 29,7%, dan pada Juli 2021 hingga Juli 2024 tumbuh lebih tinggi sebesar 33,9%.
Kondisi kelas menengah di Indonesia juga cukup memprihatinkan. Selain banyak yang telah turun kelas, Bank Dunia (World Bank) menyebut kelas menengah di Indonesia kini makin tertinggal dengan kelas atas maupun kelas bawah. World Bank mencatat, jumlah kelas menengah Indonesia kian menyusut dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.
“Tidak ada upaya konkrit yang membantu daya beli mereka (kelas menengah), apalagi soal pajak. Ini kan penting. Ada lagi royalti musik, UMKM 0,5%, atau PPN. Saya kira ini yang perlu diusulkan untuk diubah untuk menggenjot daya beli mereka.” kata Tauhid.





