Keluarga Santri Ponpes Al-Khoziny Cemas Belum Ada Lagi Korban yang Dievakuasi dari Reruntuhan

Keluarga santri korban ambruknya gedung ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo masih cemas menunggu kabar kondisi anak dan saudara mereka yang masih tertimbun di reruntuhan. (Foto: Gardu.id/ist)
banner 468x60

Sidoarjo, Gardu.id – Suasana tegang sempat mewarnai Pos Gabungan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pada Kamis (2/10/25) malam, ketika keluarga korban berusaha ikut membantu proses evakuasi santri yang masih tertimbun reruntuhan bangunan.

Ketegangan terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Sejumlah keluarga korban berkumpul di Posko Gabungan SAR untuk menanyakan kabar anak maupun saudara mereka kepada petugas.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Petugas kemudian mengimbau agar keluarga korban tidak mendekati lokasi bangunan yang ambruk, karena dianggap berbahaya. Dorongan keluarga untuk terlibat dalam evakuasi muncul lantaran mereka menilai upaya penyelamatan berlangsung lamban. Hingga malam hari, belum ada korban yang berhasil dikeluarkan meski alat berat sudah mulai digunakan sejak sore.

“Menurut saya lambat. Kalau gak gitu kami saja semua yang turun untuk bantu,” ujar salah satu keluarga korban yang enggan menyebutkan namanya.

Sementara itu, seorang pria yang sudah menunggu kabar adiknya sejak Senin mengaku emosional dan berharap petugas segera mengevakuasi korban dengan bantuan alat berat crane.

“Adik saya di dalam sana, kurang empat hari lagi akan selesai. Kalau bisa tolong bantuannya sekiranya malam ini bisa keluar, Saya gak bisa membayangkan di sana seperti apa,” ucap pria tersebut.

Situasi tegang baru mereda setelah Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, bersama jajaran TNI/Polri menenangkan keluarga korban. Setelah diberi penjelasan, pihak keluarga menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa emosi mereka muncul karena lama menanti kabar keberadaan korban.

Kasubdit Pengerahan dan Pengendalian Operasi Basarnas, Emi Frizer, menjelaskan bahwa operasi penyelamatan pada malam itu difokuskan pada pengangkatan puing bangunan. Ia menegaskan, proses evakuasi tetap berlanjut namun harus memperhitungkan keselamatan petugas, sebab bangunan yang runtuh masih terhubung dengan gedung di sisi selatan.

“Kita berhati-hati jangan sampai pada saat proses kita melakukan pemindahan memberikan dampak pergeseran dari pola runtuh. Artinya kuncian dari keruntuhan ini bergeser,” jelasnya.

Menurut Emi, pengangkatan puing pada malam hari memiliki risiko tinggi karena keterbatasan penerangan. Ia menambahkan, tim harus memastikan tidak terjadi reruntuhan tambahan.

“Kita tidak ingin terjadi apa yang namanya secondary collapse atau istilah itu runtuhan susulan. Karena kita melihat dari struktur runtuhannya tidak beraturan,” ujarnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60