Sidoarjo, Gardu.id – Upaya penyelamatan korban ambruknya gedung tiga lantai Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, masih terus dilakukan hingga Selasa (30/9) siang. Tim SAR gabungan bekerja ekstra hati-hati dalam mengevakuasi para santri yang tertimpa reruntuhan.
Saat ini, tercatat ada tujuh santri yang masih terjebak di bawah timbunan beton dan material bangunan. Meski mengalami luka cukup parah, ketujuh korban tersebut dipastikan dalam kondisi hidup.
Tim penyelamat berhasil menjalin komunikasi dengan para korban dan menyalurkan suplai oksigen serta makanan untuk menopang kehidupan mereka selama proses evakuasi berlangsung.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah penyelamatan korban. Penggunaan alat berat sengaja dihindari karena dikhawatirkan dapat menimbulkan runtuhan susulan yang membahayakan korban maupun petugas.
“Fokus kami saat ini adalah penyelamatan. Tujuh orang santri ini hidup dan harus selamat. Alat berat belum bisa digunakan, karena dikhawatirkan menimbulkan runtuhan susulan,” kata Adhy.
Korban yang sudah dievakuasi sebelumnya sebagian besar mendapatkan perawatan intensif di RSUD Kabupaten Sidoarjo maupun rumah sakit rujukan lainnya. Dari total 84 korban yang sempat dirawat, ada beberapa yang sudah diperbolehkan pulang. Sementara itu, korban dengan kondisi lebih serius masih menjalani operasi dan observasi medis.
Pemerintah juga telah mendirikan posko informasi khusus bagi keluarga serta wali santri untuk memperlancar komunikasi. Posko tersebut berfungsi sebagai pusat penyampaian perkembangan terkini, sekaligus untuk mencegah keluarga masuk ke area evakuasi yang berbahaya.
“Mohon wali murid tetap berkomunikasi melalui posko. Jangan semua keluarga masuk ke lokasi karena bisa mengganggu evakuasi. Insya Allah semua perkembangan akan kami sampaikan melalui posko resmi,” imbau Adhy.
Untuk jumlah korban secara pasti, tim masih melakukan pencocokan data antara absensi santri dengan temuan di lapangan. Saat ini diperkirakan ada sekitar 12 santri yang belum ditemukan, meski angka tersebut belum dapat dipastikan sebelum seluruh evakuasi selesai.
Proses evakuasi diperkirakan memakan waktu hingga 1×24 jam ke depan. Selama suplai oksigen dan makanan masih bisa diberikan kepada korban, tim penyelamat tetap mengutamakan cara manual sebelum mempertimbangkan penggunaan alat berat.
“Proses evakuasi diperkirakan akan berlangsung 1×24 jam ke depan. Selama suplai makanan dan oksigen masih bisa disalurkan, kami akan mengutamakan upaya penyelamatan sebelum opsi penggunaan alat berat diambil,” tandas Adhy.





