Sidoarjo, Gardu.id – Gedung tiga lantai di bagian belakang Pondok Pesantren Putra Al Khoziny di kawasan Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, ambruk pada Senin (29/9/25) sore. Korban diperkirakan lebih dari satu orang, mengingat lantai dasar bangunan merupakan mushola yang biasa digunakan ratusan santri untuk shalat berjamaah. Mereka masih terjebak di bawah reruntuhan.
Pantauan Gardu.id di lapangan, bangunan di bagian belakang pondok itu hancur dan rata dengan tanah. Sedikitnya, sudah seorang santri yang dievakuasi dalam kondisi meninggal. Kawasan salah satu pondok yang didirikan tahun 1927 itu terletak di wilayah RT 7 RW 3 Desa Buduran. Peristiwa ambruknya bangunan tersebut terjadi pada Senin sore menjelang shalat ashar berjamaah di lingkungan pondok.
Joko, warga di sekitar pondok yang ikut membantu evakuasi kali pertama mengatakan, kejadian ambruknya bangunan tiga lantai itu terjadi beriringan dengan tanah bergetar layaknya gempa.
“Gak lama setelah terasa gempa. Mungkin hitungan detik,” ujarnya kepada Gardu.id.
Joko kemudian ikut membantu mengevakuasi beberapa korban terluka. “Belum ada ambulan, akhirnya saya ikut membantu memasukkan korban luka ke mobil operasional Desa Buduran untuk dibawa ke rumah sakit terdekat,” tutur Joko.

Pria paro baya yang rumahnya tak jauh dari kawasan pondok putra Al Khoziny itu mengaku tak tega setelah membantu evakuasi dan memilih berjaga di luar pondok.
Menurutnya, masih ada ratusan santri yang terjebak di reruntuhan. “Sebab, saat itu sudah adzan. Seperti biasa, lantai dasar sudah dipenuhi santri yang akan berjamaah.”
Hingga berita ini diturunkan, ratusan petugas gabungan sudah tiba untuk melakukan proses evakuasi. Para petugas berasal dari Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, BPBD Kab. Sidoarjo, TNI, dan Polri. Puluhan ambulan nampak sudah disiagakan di halaman depan ponpes.





