Kesaksian Pekerja Pabrik Hyundai Pasca Digerebek Petugas ICE

Seorang pekerja Korea Selatan, yang ditahan dalam penggerebekan ICE di pabrik Hyundai-LG di Ellabell, Georgia, disambut oleh keluarganya di tempat parkir Bandara Internasional Incheon, (12/9/25). (Foto: AFP)
banner 468x60

Seoul, Gardu.id – Ratusan pekerja asal Korea Selatan (Korsel) di Amerika Serikat (AS) memutuskan kembali ke negaranya usai penggerebekan pembangunan pabrik baterai Hyundai-LG di Ellabell, Georgia, pada awal September 2025.

Dalam operasi yang dilakukan aparat Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada 4 September, sebanyak 475 pekerja ditahan. Dari jumlah itu, 317 di antaranya merupakan warga Korsel, sebagaimana dilaporkan Time, Senin (15/9/25).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Seorang pekerja sempat menuliskan pengalaman saat digerebek dan ditahan ICE di selembar kertas kecil. Catatan tersebut diperoleh kantor berita Yonhap dan menggambarkan kondisi penahanan yang disebut tidak manusiawi.

Dalam tulisannya, pekerja itu menyebut aparat datang sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Saat masih mengenakan helm dan sepatu keselamatan, para pekerja digiring, tangan mereka diikat dengan kabel ties. “Kartu tanda penduduk dan paspor saya tidak boleh diambil,” tulisnya.

Mereka diminta mengisi formulir surat perintah penangkapan asing tanpa penjelasan mengenai hak hukum. Banyak dari mereka kesulitan karena tidak fasih berbahasa Inggris. “Kami menyerahkan dokumen dengan harapan bisa segera dilepaskan,” lanjut catatan itu.

Namun, setelah formulir diserahkan, barang-barang pribadi disita dan para pekerja dibawa dengan mobil polisi. Beberapa bahkan dipasangi rantai di pinggang, pergelangan tangan, dan kaki. Mereka harus menunggu lebih dari sembilan jam sebelum akhirnya dipindahkan dengan tangan tetap terikat.

Para pekerja ditempatkan di lima sel berisi total 72 orang. Ruangan yang sangat dingin membuat mereka terpaksa membungkus diri dengan handuk. Matras yang tersedia berjamur, sementara toilet tanpa penutup hanya ditutupi kain kecil.

Harian Hankyoreh melaporkan, tangan dan pinggang para pekerja diikat sehingga mereka harus membungkuk untuk minum. Ruang tahanan hanya memiliki lubang kecil sebesar kepalan tangan sebagai sumber cahaya.

“Saya merasa hak asasi kami tidak dijamin,” kata Cho Young Hee (44), seorang insinyur dengan visa B-1, kepada Wall Street Journal. Menurutnya, agen ICE pada awalnya bersikap sangat agresif, meski kemudian mereka mulai menyadari para pekerja tidak melakukan pelanggaran serius. “Akhirnya mereka juga berpikir, ‘sepertinya ada yang tidak beres di sini’,” ujarnya.

Meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan ingin para pekerja tetap tinggal untuk melatih tenaga kerja lokal, mayoritas memilih pulang. Sebanyak 316 warga Korsel dan 14 pekerja asing lain tiba di Seoul pada Jumat (12/9/25) dan disambut meriah. Hanya satu pekerja Korsel yang memutuskan tetap bertahan di AS.

“Tidak ada yang mau bekerja kalau kondisinya seperti ini,” ujar Jang Young Seon, insinyur dari perusahaan subkontraktor LGES, dikutip Reuters.

Kasus penahanan ratusan pekerja ini menuai kecaman luas di Korsel. Legislator hingga diplomat menuding sistem visa AS bermasalah. Insiden tersebut juga menimbulkan keraguan sejumlah perusahaan Korsel terhadap rencana investasi mereka di AS.

Padahal, hanya beberapa pekan sebelumnya, Seoul berkomitmen menanamkan investasi langsung senilai 350 miliar dollar AS di “Negeri Paman Sam”. Akibat penggerebekan ini, proyek pembangunan pabrik Hyundai-LG diperkirakan tertunda dua hingga tiga bulan. Pabrik tersebut sebelumnya digadang-gadang bakal membuka ribuan lapangan kerja baru bagi warga Amerika.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60