Kemenlu: Tidak Ada WNI Jadi Korban Kerusuhan Nepal

Asap kebakaran membumbung saat para demonstran membakar Gedung Parlemen Federal pada 9 September 2025. Demonstran yang didominasi Gen Z negara itu mengakibatkan sedikitnya 19 orang tewas. (Foto ist/reuters)
banner 468x60

Surabaya, Gardu.id – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia memastikan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Nepal dalam kondisi aman. Situasi Nepal memanas setelah pemerintah Nepal memblokir 26 platform media sosial yang memicu aksi unjuk rasa berskala besar oleh rakyatnya.

“Hingga kini tidak ada informasi adanya WNI yang jadi korban dalam kerusuhan di Nepal,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi, Kota Surabaya, Rabu (10/9/25).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Seusai mendampingi 14 Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia bertamu ke Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Judha Nugraha menjelaskan, KBRI Dhaka mencatat ada sekitar 57 WNI yang menetap di Nepal. Selain itu, ada 43 WNI yang tengah menjadi anggota delegasi pada pelbagai pertemuan di sana.

KBRI Dhaka, katanya, yang memiliki wilayah akreditasi di Nepal telah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan otoritas setempat. Termasuk juga dengan Konsul Kehormatan RI di Nepal dan komunitas Indonesia di negara tersebut.

“Berdasarkan komunikasi terakhir, tidak ada WNI yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. Namun kami tetap melakukan langkah-langkah kontingensi. Informasi yang diterima Kemenlu menyebutkan, situasi di Nepal relatif membaik,” ungkap Judha.

Namun, ia menegaskan, KBRI tetap mengeluarkan imbauan agar para WNI meningkatkan kewaspadaan, menghindari kerumunan massa, dan memonitor situasi keamanan dari sumber pemerintah serta media. “WNI yang sedang melakukan kunjungan atau wisata di Nepal diminta melapor ke hotline KBRI Dhaka.”

Sejak Rabu (10/9/25), tentara Nepal berpatroli di jalan-jalan di ibu kota Kathmandu untuk mengembalikan ketertiban. Langkah itu dilakukan setelah para pengunjuk rasa yang sebagian besar adalah Generasi Z membakar gedung parlemen dan memaksa perdana menteri mundur. Kejadian itu merupakan kekerasan terburuk yang terjadi di Nepal dalam dua dekade terakhir.

Para Gen Z di negara itu, kata kantor berita AFP, melakukan aksi-aksi demo sejak Senin (8/9/25) di Kathmandu untuk menentang larangan pemerintah terhadap media sosial. Aksi kemudian meningkat tidak terkontrol menjadi luapan kemarahan nasional. Mereka bahkan membakar gedung-gedung pemerintah setelah tindakan represif kepolisian Nepal merenggut setidaknya 19 nyawa.

Seorang reporter AFP mengatakan, kepulan asap mengepul dari gedung-gedung pemerintah, tempat tinggal politisi, supermarket, dan bangunan lain yang menjadi sasaran pengunjuk rasa. Jalan-jalan ibu kota Nepal dipenuhi bangkai kendaraan dan ban yang terbakar.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60